Motivasi buat si-Pejuang Rupiah
Jamian, nama lengkap saya, tidak ada nama panggilan lain,
berasal dari Kabupaten Mempawah. Sejak tanggal 4 Oktober 1997 menginjakkan kaki
di Kabupaten Sanggau untuk menjadi Guru dengan status CPNS di Sebuah Sekolah
yang ketika itu bernama SDN No. 75 UPT L SP V, Sebutan umum untuk Pemukiman
Transmigrasi. Daerah tersebut dihuni oleh penduduk transmigrasi dan penduduk
lokal. Pada tahun ketiga saya mengabdi, bersama
tiga guru yang berstatus PNS dan tiga guru yang berstatus honorer, satuan
Pendidikan itu berubah Nomenklatur menjadi SDN No. 75 Tapang Dulang, Kecamatan Sanggau
Kapuas, Kabupaten Sanggau. Terhitung sejak 1 September 2020 saya dimutasi dari
unit kerja tersebut, karena telah berada disana selama dua puluh tiga tahun
tentu ada kisah yang dapat saya bagikan ke pembaca.
Pada tahun kelima saya bertugas di Satuan Pendidikan
tersebut, diawal tahun pelajaran 2002/2003 ketika itu mendapat tugas sebagai
guru kelas IV dengan jumlah siswa 12 orang, diantaranya terdapat siswa yang
bernama Danton, anak pertama dari tiga bersaudara kedua adiknya berjenis
kelamin perempuan. Datang dari latar belakang pendidikan kedua orang tua yang
mengeyam pendidikan melalui jalur Paket A dengan profesi sebagai petani penyadap
karet. Sebagai anak laki-laki dalam keluarga tersebut, Danton berusaha
mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan bekerja sebagai juru packing barang
dagangan di sebuah toko sembako di Desa tersebut.
Danton kecil ketika itu sering tidak mengerjakan pekerjaan
rumah yang diberikan guru disekolah. Lelah yang dialami Danton ditambah dengan
harus menempuh perjalanan dari rumahnya ke sekolah sekitar ±600 M, berbekal
kantong kresek hitam sebagai wadah alat tulisnya, dengan seragam sekolah
alahkadarnya Danton datang ke Sekolah. Hampir seluruhnya siswa kami berangkat
sekolah dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan tidak kurang dari 400 M,
dengan kondisi jalan mendaki dan menuruni bukit, ketika hujan membasahi alam
mereka semua harus rela berjalan dengan tanpa alas kaki, menapaki jalan tanah
yang licin.. Namun dengan kelelahan yang dirasakannya Sering Danton kecil
ketika itu tertidur di ruang kelas, sehingga saya sebagai guru mengarahkan
untuk ke toilet sekedar mencuci muka. Nilai harian Danton jarang mendapat 10
untuk setiap mata pelajaran, semangat belajarnya rendah, kompetensi berpikirnya
juga sering mengalami loading, kemampuan calistungnya hanya pas-pasan.
Karena waktu yang tersedia ketika pulang sekolah digunakan
oleh Danton kecil untuk bekerja melakukan packing barang dagangan yang
diarahkan oleh pemilik toko, terkadang ia diminta untuk mengikuti bongkar muat
barang belanjaan yang waktunya selalu pada petang hingga malam hari, sehingga
tak ada waktu untuk mengulang kembali pelajaran ataupun mengerjakan soal
latihan di rumah yang diberikan oleh gurunya, penyebab utamanya adalah
lingkungan keluarga yang kurang memberikan perhatian khusus untuk mengarahkan
ataupun membimbing anak belajar.
Melihat kenyataan tersebut, saya merasa
harus ambil bagian untuk melakukan tindakan nyata demi keadaan yang dialami
oleh Danton, karena apabila sayapun berdiam diri tentunya kekurangan yang
dialami Danton dalam hal kelancaran calistung mengalami kendala untuk bisa
lebih baik dari keadaan yang dihadapinya dikala itu.
Tindakan nyata harus saya lakukan,
demi membantu Danton kecil agar bisa mencapai kemajuan pengetahuan, tindakan
pertama yang saya lakukan adalah satu hingga dua kali dalam sepekan, ketika
sore hari saya melakukan kunjungan ketempat tingggal Danton, dan itu berlangsung
hingga satu bulan saya melakukan ramahtamah dengan orang tuanya untuk mendapat
informasi dan mengetahui keadaan yang sebenarnya diharapkan kedua orang tua
terhadap kemajuan pendidikan anaknya, hal kedua yang saya lakukan adalah
melakukan pertemuan dengan pemilik toko yang biasa membutuhkan tenaga Danton
untuk packing, atau bongkar muat barang dagangan untuk memberikan pemahaman
kepada beliau bahwa usia Danton masih sangat membutuhkan asupan pengetahuan
calistung demi kemajuan dirinya, kedua orangtuanya, bahkan kemajuan daerah
setempat. Dari pendekatan yang saya lakukan tersebut selanjutnya saya mulai
melakukan langkah nyatanya, pertama saya jadikan Danton sebagai siswa sasaran
untuk mendapatkan bimbingan diluar jam dinas, jadwal yang saya susun untuk memberikan
pelajaran tambahan bagi Danton dan beberapa rekan untuk sibuk dengan kegiatan
latihan calistung setiap selasa dan jumat sore dimulai pukul 14.00 hingga pukul
16.00. Selain itu khusus bagi Danton saya selalu membuat janjian untuk
melakukan aktivitas sore hari bersamanya dengan tujuan untuk mengurangi upayanya
mengumpulkan pundi rupiah dikala usianya masih belia yang harus digunakan untuk
mendapatkan pengetahuan calistung lebih banyak. Dengan komitmen apabila ia
semangat untuk meningkatkan pengetahuan calistung diluar jadwal sekolah maka
keperluan alat tulis sekolah bisa saya penuhi.
Benar adanya usaha sebanding dengan
hasil, enam bulan pertama telah berlalu, kegiatan penilaian akhir semester
ganjil tahun pelajaran 2002/2003 telah dilakukan, rekan-rekan guru di satuan
pendidikan telah menyatakan bahwa Danton telah menunjukan kemajuan, perolehan
nilai merah sudah berkurang, kemampuan membacanya sudah meningkat, hanya perlu
ditingkatkan pada kemampuan berhitung dibidang perkalian. Saya terus meningkatkan
komunikasi dengan orangtua Danton, karena menurut pengamatan saya Orang tuanya
itu punya keinginan yang tinggi terhadap kemajuan pendidikan seluruh anaknya.
Motivasi terus saya berikan kepada Danton,
hingga dia dinyatakan layak untuk naik ke kelas V, walau kini dia harus
mendapat bimbingan dari guru kelasnya, tetapi saya masih menunjukan kepedulian,
dan dia pun menunjukan kesungguhan untuk meningkatkan pengetahuan calistungnya,
kecuali pada hari minggu atau hari libur baru ia mulai beraktivitas di packing
barang. Kedua orang tuanya juga sangat mendukung usaha yang saya lakukan, hal
itu terbukti dengan komonikasi yang selalu dilakukan orang tuanya menanyakan
tentang kemampuan anaknya dalam bidang pendidikan. Dan saya yakin bahwa Danton
akan semakin menyenangi pendidikan dan menunjukan peningkatan kompetensi hingga
ia menamatkan pendidikan jenjang SD nya.
Sebagai pendidik di daerah yang
sarana, prasana belum terpenuhi dengan baik, akses dari daerah lain cukup jauh
dan memerlukan waktu yang lama, dengan latar belakang pendidikan sebagian besar
orang tua siswa masih dibawah Pendidikan Menengah Atas, maka diperlukan prinsip
Pendekatan Personal dengan kemampuan menjadi
pendengar harapan orangtua siswa, dan memberikan motivasi maupun rela
memfasilitasi keperluan pendidikan bagi sebagian anak yang memang layak
mendapatkan perlakuan itu.
Sejatinya profesi pendidik bukan semata mentransfer pengetahuan, menuangkan nya dalam catatan nilai pengetahuan hingga keterampilan, menanamkan karakter tetapi ada hal-hal khusus yang patut kita lakukan yakni peduli dengan kekurangan siswa tambahkan motivasi pada dirinya, lakukan pendekatan personal kepada orangtuanya.
Mantap pk
BalasHapusMantap pak,....
HapusHadir untuk menyapa....
BalasHapusMantap pak...
Sangat menginspirasi....